Beberapa orang masih mengenalku dengan nama Bang Antox. Kali ini aku akan bercerita tentang kisah-kisah pahitku yang ternyata adalah jalan terbaik dari Tuhanku. Semoga setelah membaca ini teman-teman juga bisa selalu berbaik sangka terhadap jalan yang telah ditakdirkan Tuhan kepada kita.
Pada
suatu hari, di kala masa studi D3ku telah berakhir, aku duduk terdiam di suatu
tempat. Akupun termenung. Entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba aku tersenyum
dengan sendirinya. Seketika itu aku teringat dan membenarkan apa yang telah
Tuhanku katakan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”. Beberapa bayangan dan peristiwa itupun
mulai tergambar jelas dalam benakku. Iya, peristiwa-peristiwa pahit yang pernah
aku lalui di masa-masa sekolah dan kerjaku dulu sampai sekarang ini.
1. Tidak
Naik Kelas
Cerita tidak naik kelas ini
sebelumnya sudah pernah aku tulis di sini. Tidak naik kelas
merupakan hal yang paling memalukan bagiku saat itu. Tapi ternyata tetap ada
hikmah di balik peristiwa itu. Dulu waktu pendaftaran masuk SMK, ada syarat
tinggi badan minimal 155 cm sedangkan tinggi badanku waktu itu 154 cm tapi
akhirnya kekurangan 1 cm tersebut masih dimaklumi & diterima karena dibantu
nilaiku (NIM) yang cukup bagus. Bisa dibayangkan misalkan dulu aku selalu naik
kelas mungkin waktu pendaftaran SMK tinggi badanku belum sampai 154 cm dan
kemungkinan besar sudah tidak bisa masuk SMK. Selain itu juga dari tidak naik
kelas itu aku menjadi lebih semangat lagi dalam mraih prestasi.
2. Tidak
jadi kerja di PT Pertambangan
Cerita tidak jadi kerja di PT
Pertambangan ini juga sebelumnya sudah pernah aku tulis di sini. Sebenarnya sangat disayangkan dan sangat membuat hati kecewa karena
perjuangan tesnya yang panjang dan di sana adalah perusahaan bonafit yang
gajinya jauh lebih besar daripada tempat aku bekerja dulu di Cikarang. Tapi
sekarang aku sangat bersyukur. Jika dulu aku jadi kerja di situ pastinya aku
tidak bisa masuk kuliah di tahun 2012 kemaren, karena di sana kontrak kerja 1
tahun di pulau Kalimantan yang jauh dari keramaian kota, tidak memungkinkan
untuk aku bisa bolak balik mengurus pendaftaran masuk kuliah di Semarang.
Intinya, dari tidak jadinya kerja di PT Pertambangan itu aku bisa kuliah di
Politeknik Negeri Semarang dengan bantuan beasiswa bidikmisi dan bisa menjadi
salah satu ketua organisasi mahasiswa di situ.
3. Tidak
jadi kuliah di jurusan pendidikan MTK
Dulu aku pernah mempunyai
cita-cita, yaitu ingin menjadi guru MTK. Bukan masalah gaji, jaminan akhir tua
ataupun tunjangan lainnya, menjadi guru MTK seakan sudah panggilan hati yang
benar-benar ingin turut serta dalam mencerdasakan generasi muda Bangsa
Indonesia khususnya di bidang ilmu perhitungan. Namun cita-cita tersebut seakan
sirna dan hanya menjadi sebuah angan-angan belaka ketika pada suatu hari aku
harus memutuskan untuk masuk di perguruan tinggi yang bukan jurusan pendidikan
MTK melainkan jurusan Teknik Mesin. Keputusan ini aku ambil dengan harapan
nantinya bisa memberikan sesuatu yang lebih pada orang tua dan keluargaku.
Meskipun kerap kali saat di bangku mata kuliah teknik mesin aku membayangkan berada
di suatu ruangan kelas mata kuliah pendidikan MTK di suatu perguruan tinggi
jurusan pendidikan MTK, di situ aku membayangkan bisa bersaing dalam tanya
jawab soal MTK, presentasi mengerjakan soal-soal MTK di depan kelas bahkan
simulasi mengajar mata pelajaran MTK kepada siswa-siswi tapi aku tidak begitu
kecewa kuliah di Politeknik Negeri Semarang karena di sana aku mendapatkan
banyak hal-hal baru, pengalaman baru, dan teman-teman baru yang tak pernah
kupikirkan sebelumnya bakalan aku dapatkan di sana. Ya, inilah jalan terbaik
yang diberikan Tuhan kepadaku yang awalnya bertolak belakang dengan impianku.
Jika dulu aku jadi kuliah di perguruan tinggi jurusan pendidikan MTK, pastinya
sekarang ini aku belum lulus kuliah sementara usiaku terus bertambah dan aku
yakin pekerjaan yang aku dapatkan dari lulusan jurusan teknk mesin ini bisa
memberikan sesuatu yang lebih daripada pekerjaan yang aku dapatkan jika aku
lulus dari jurusan pendidikan MTK.
4. Tidak
diterima Magang di perusahaan Bonafit
Magang 3 bulan di luar provinsi
menurutku adalah pengalaman yang sangat berharga apalagi kalau di perusahaan
yang bonafit. Pada suatu hari keluar keputusan/ pengumuman dari ketua jurusan
Teknik Mesin Polines bahwa aku dan 3 temanku ditempatkan magang di PT. A, salah
satu perusahaan bonafit (Astra Group) di daerah Karawang. Akupun merasa sangat
senang karena dalam benakku aku akan mendapatkan pengalaman yang baru dan akan
mempermudah aku untuk nantinya bisa bekerja di situ. Namun pada beberapa hari
berikutnya aku dan 3 temanku harus mengikuti tes kesehatan (Medical Check Up)
sebagai syarat diterimanya magang di PT. A. Dengan tenangnya dan penuh
keyakinan aku yakin akan lolos tes kesehatan tersebut karena sebelumnya di
tempat yang sama aku sudah pernah tes kesehatan 2x dengan hasil yang menyatakan
aku sehat.
Beberapa hari kemudian keluarlah
hasilnya yang menyatakan kami berempat lolos dan diterima magang di PT. A. Aku
merasa ada beberapa temanku yang iri dengan kami karena mereka ditempatkan
magang di perusahaan yang kurang bonafit daripada di PT. A. Akhirnya sampailah
pada hari keberangkatan magang. Kami satu kelas (25 orang) dipisahkan ke 7
perusahaan, ada yang 4 orang di PT. A, 1 orang di PT. K, 10 orang di PT. C, dan
lain-lain. Sampailah kami berempat di PT. A. Kami berempat bersama 2 dosen kami
masuk ke ruang lobby perusahaan. Di sana kami menunggu dan akhirnya 2 dosen
kami dipanggil dan membicarakan sesuatu. Beberapa menit kemudian dosen kami
keluar menemui kami dan langsung mengajak kami keluar dari ruang tersebut dan
menjelaskan bahwa ada 1 yang tidak diterima magang di situ, dan itu adalah aku
dengan alasan ada sedikit kendala di hasil tes kesehatanku dan kemarin tidak
sempat sepenuhnya tersampaikan ke dosenku sebelum kami berangkat ke PT
tersebut. Yah, betapa kecewanya aku. Singkat cerita, dosenku langsung membawaku
ke rombongan teman-temanku 10 orang yang magang di PT. C. Alhamdulillah PT. C
masih mau menerima tambahan anak magang yang awalnya 10 orang menjadi 11 orang.
PT. C adalah salah satu perusahaan
yang sudah terkenal dengan kurang bisa memberikan kesejahteraan kepada
karyawannya. Isu ini sudah terdengar oleh kami jauh sebelum kami berangkat. Di
awal keberangkatan kita sudah tidak berharap bakal dapat gaji, ataupun
fasilitas-fasilitas yang akan diberikan di PT. C seperti di perusahaan bonafit
pada umumnya. Tetapi kami benar-benar dikagetkan dengan penjelasan seorang
karyawan staff PT. C yang memandu kami bahwa kami sebagai mahasiswa magang akan
mendapatkan beberapa fasilitas, yaitu : dicarikan kontrakan plus sudah dibayar
perusahaan, bus antar jemput, gratis makan 3x sehari, dan dapat gaji 1jta/
bulan. Alhamdulillah fasilitas-fasilitas tersebut benar-benar diberikan. PT. C
yang awalnya menurut kami adalah PT yang paling pelit dan dipandang sebelah
mata dari ke 7 PT tempat magang kami, kini menjadi PT yang paling bisa
mensejahterakan kami sebagai mahasiswa magang dan menjadi pusat perhatian kami.
Seandainya aku jadi magang di PT.
A, aku tidak akan mendapatkan fasilitas-fasilitas tersebut, apalagi saat itu
rejeki Bapakku kurang begitu lancar yang bisa saya pastikan tidak bisa
memberikan uang saku yang cukup untuk aku magang 3 bulan di Karawang. Dari
gagalnya tes kesehatan tersebut juga membuatku sadar akan pentingnya menjaga
kesehatan tubuhku.
5. Tidak
menjadi wisudawan terbaik
Saat pertama aku dinyatakan
diterima sebagai mahasiswa baru Polines, aku bertekad untuk nantinya bisa menjadi
mahasiswa nomer satu di Polines. Iya, aku ingin di akhir masa studiku menjadi
lulusan wisudawan terbaik yang bisa membanggakan orang tuaku, dan berapapun IP/
IPKku yang penting aku bisa rangking 1 di kelas. Akhirnya di semester 1 aku
mendapatkan rangking 1 di kelas bahkan IPku waktu itu adalah yang terbaik dari
seluruh mahasiswa jurusan teknik mesin tingkat 1, 2, dan 3 dengan IP 3,68. Di
semester 2 Ipku naik menjadi 3,86 tetapi rangkingku turun menjadi rangking 2
karena ada temanku yang Ipnya lebih bagus. Masuk di semester 3, aku mulai aktif
di salah satu organisasi mahasiswa dan di situ aku menjabat sebagai wakil
ketua. Selang beberapa minggu di awal kepengurusan organisasi, aku merasa agak
kuwalahan untuk mempertahankan impian menjadi wisudawan terbaik dan impian
selalu rangking 1. Karena aku ingin benar-benar totalitas di organisasi
tersebut, akhirnya aku mengganti target/ impianku tersebut dengan: “Berapapun
IPku dan berapapun rangking/ peringkatku di kelas, yang penting di akhir nanti
IPKku di atas 3,5”
Akhirnya selesailah masa studiku di
Polines dan sampailah pada waktu aku wisuda. Di hari itu aku dan orangtuaku
tahu bahwa aku lulus dengan IPK 3,51 (sesuai target), tapi aku tidak menjadi
wisudawan terbaik. Aku melihat kekecewaan di mata ibuku saat beliau bertanya,
“Lho le, yang jadi wisudawan terbaik tadi kok nggak kamu?”. Aku tidak bisa
menjawab banyak selain hanya sebuah kalimat, “Nggak papa, Mak.” dan setelah itu
aku hanya terdiam. Aku hanya bergumam dalam hati bahwa suatu saat aku akan
membuat ortuku bangga terhadap diriku bukan dengan menjadi wisudawan terbaik
tapi menjadi karyawan/ pegawai/ pengusaha terbaik di tempatku bekerja nanti.
Sekarang aku sudah mulai membuat
bangga orangtuaku karena aku telah diterima kerja di PT. AIA, salah satu perusahaan
Bonafit (Astra Grup) di Karawang dengan jabatan HRD-Training, sebuah jabatan
yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya akan masuk di situ, jabatan yang tak
pernah aku pelajari di bangku kuliahku, tapi basicnya aku dapatkan selama aku
totalitas di salah satu organisasi mahasiswa Polines. Alhamdulillah,
terimakasih keluarga KBMP, jika dulu aku tetap mempertahankan impian ingin
menjadi wisudawan terbaik, mungkin aku akan melepasmu (tidak menjadi Ketua) dan
tidak mendapatkan peluang kerja ini, karena bersamamu aku mendapat banyak
pelajaran dan perubahan positif dalam driku.
Akupun tersenyum sambil
mengangguk-anggukan kepala, benar-benar sadar bahwa semua cerita hidup yang
telah aku lalui ternyata begitu indah di jalan Tuhan. Teruslah bermimpi dan
kejarlah mimpimu, tapi di saat Tuhanmu berkehendak lain, bahagialah karena di
saat itu Dia akan menunjukkan jalannya yang terbaik untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar