Sabtu, 01 Agustus 2015

Filosofi Kaca



 

1.       Kaca Adalah Cerminan Hati (Kaca dan cahaya)
Pada suatu hari, saya diam dan termenung. Dalam titik diamku, tiba-tiba munculah sebuah pertanyaan yang sedikit menggelitik tapi sangat membuatku bingung saat itu. “Kenapa kaca bisa ditembus cahaya?”, itulah sebuah kalimat tanya yang muncul dalam benakku. Sepertinya pertanyaan ini sangat simple dan terkesan kurang kerjaan saja kalau kita serius untuk mencari jawabannya, tapi ini benar-benar membuatku bingung dan menghabiskan banyak waktuku untuk terus mencari tahu jawabannya saat itu. Bagaimana tidak? Coba bayangkan saja, kaca itu benda padat, tapi kenapa benda padat tersebut bisa ditembus cahaya? Kenapa kita bisa tetap melihat sesuatu yang terhalang oleh kaca? Kenapa kaca begitu aneh dan tidak sama dengan benda padat lainnya? Pertanyaan ini benar-benar membuatku gelisah saat itu. Coba teman-teman juga cari tahu jawabannya ya karena sampai saat ini pun saya belum menemukan jawabannya secara ilmu sains atau ilmiahnya.
Saat hampir berada di titik keputusasaanku dalam mencari tahu jawaban tentang kaca, tiba-tiba dengan kilatnya terlintas dalam otakku sebuah jawaban yang seketika itu membuatku paham tentang filosofi kaca dan membuatku puas serta  rasa kegelisahanku sirna saat itu juga. Awalnya adalah ketika saya mengingat kata-kata dari guru spiritualku bahwa apa yang ada di dunia ini adalah cerminan dari apa yang ada di dunia akhirat/ ghaib. Jadi saya langsung berfikir bahwa kaca adalah cerminan hati kita. Saat kaca bersih, kaca akan mudah ditembus cahaya tetapi saat kaca kotor cahaya akan sulit untuk menembus kaca tersebut. Begitu juga dengan hati kita. Saat hati kita bersih maka akan mudah cahaya ilahi (petunjuk/hikmah) masuk dalam diri kita tetapi saat hati kita kotor, cahaya ilahi akan susah untuk masuk ke dalam diri kita. Itulah jawaban yang begitu membuat hatiku puas. Meskipun belum menemukan jawaban dari segi ilmu sains/ ilmiahnya (sebab akibat) tapi saya telah menemukan jawabannya dari segi pandang sufi. Jadi, kenapa ada benda aneh seperti kaca? Jawabannya agar kita mudah mempelajari bahwa hati kita seperti kaca yang hendaknya selalu kita jaga kebersihannya untuk bisa melihat dan menerima cahaya-Nya.

2.       Saat Kaca Kotor (Kaca dan Debu)
Bisakah kita menjaga kaca jendela rumah kita tetap bersih dari debu atau kotoran lainnya? Pastinya bisa. Tapi bisakah kita memastikan tidak ada debu atau kotoran yang datang mengenainya? Jawabannya tidak. Debu pasti akan selalu datang mengotori kaca jendela kita. Tinggal bagaimana kita menjaga agar debu tersebut hilang dan kaca jendela kita kembali bersih sesegera mungkin. Jangan menunda-nunda atau menunggu debu itu menumpuk banyak di kaca jendela kita karena fungsi kaca itu sendiri akan berkurang dan kita akan kesulitan untuk membersihkannya kembali. Begitu juga dengan hati kita. Iya, kaca ibarat hati kita dan debu adalah kotoran di hati kita. Kotoran hati bisa berupa: rasa iri, benci, marah, egois, dusta, angkuh,sedih, cemas, gelisah, khawatir, dan semua perasaan yang terasa mengganjal dalam hati kita. Semua perasaan tersebut pasti akan selalu datang di hati kita. Tinggal bagaimana kita bisa menetralkannya kembali dari semua perasaan itu.

3.       Melihat dari Balik Kaca
Pada suatu hari ada seseorang yang  bangun tidur dan hendak membuka pintu rumah. Lalu dia melihat dulu cahaya di luar rumah dari balik kaca jendela. Dia memastikan sudah terangkah atau masih gelap keadaan di luar rumah. Saat melihat ke jendela, dia mendapatkan kacanya dalam keadaan sangat kotor. Kemungkinan itu adalah cipratan genangan air di depan rumahnya dari kendaraan yang lewat karena rumahnya terletak dekat pinggir jalan. Saat itu dia tidak bisa melihat dengan baik bagaimana keadaan di luar rumah. Bahkan dia mengira cuaca di luar rumah masih buruk dan gerimis. Ketika dia membuka pintunya ternyata cuaca pagi itu sangat cerah. Diapun termenung. Dia sadar bahwa hati ini seperti kaca. Saat hati kotor maka kita tidak bisa melihat dengan baik apa yang ada di depan kita, tidak bisa mengambil hikmah dari apa yang sedang atau telah kita alami atau dari peristiwa yang kita lihat, sulit membedakan mana yang benar dan yang salah, hanya bisa mengira-ngira saja dan akhirnya kita salah dalam mengira.

4.       Pembersihan Kaca (Kaca, Pembantu, Majikan dan Pembersihan)
Ada sebuah kisah dari kaca jendela dari sebuah rumah mewah. Kaca jendela itu sangat kotor karena pembantu di rumah itu tidak pernah membersihkannya. Padahal majikan atau pemilik rumah tersebut telah menjelaskan kepada sang pembantu bahwa rumahnya harus selalu bersih termasuk dia (kaca jendela). Akhirnya sang majikan memberi peringatan kepada sang pembantu untuk membersihkannya. Proses pembersihan terhadapmupun dimulai. Sang pembantu menyiramnya dengan air yang keluar deras dari selang dan menyikatnya dengan keras. Sang kaca merasa kesakitan dalam pembersihan itu. Tapi akirnya dia sadar bahwa tahapan itu harus dia lalui agar menjadi lebih baik.
Sekarang bayangkan kaca jendela itu adalah hatimu, rumah itu adalah badanmu, sang pembantu adalah kamu yang telah diberi amanah oleh Tuhan untuk menjaga tubuhmu termasuk hatimu, sang majikan atau pemilik rumah adalah Tuhanmu sebagai pemilik tubuhmu beserta hatimu bahkan dirimu sendiri, dan pembersihan kaca adalah cobaan hidup yang sebenarnya bisa membersihkan hatimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hem Batik Murah Pekalongan

Yayan Batik dengan ig @batik_yayan menyediakan berbagai jenis batik. Untuk postingan kali ini Yayan Batik memposting  jenis hem batik dengan...